Fatwa-Fatwa Agama Yang Menghebohkan...!


Kerapkali, kita membaca fatwa-fatwa yang menghebohkan. Beberapa waktu lalu, ulama di Malaysia mengharamkan yoga. Sebagian besar ulama Saudi hingga sekarang mengharamkan perempuan untuk menyetir mobil. Beberapa ulama Saudi juga melarang perempuan memakai “bra”, karena hal itu bisa menipu laki-laki, seolah-olah dia memiliki payudara yang besar, padahal belum tentu demikian, dan karena itu bisa dianggap sebagai menipu.


Begitu juga, perempuan diharamkan memakai sepatu dengan hak tinggi, lagi-lagi dengan alasan penipuan: dengan sepatu berhak tinggi, perempuan tampak lebih tinggi dari aslinya, dan itu menipu. Dalam hati saya berkata: kalau diterus-teruskan, perempuan juga dilarang berhias, karena bisa menipu pula, dia tampak lebih cantik dari aslinya, dan itu menipu laki-laki.

April 2007, sebuah fatwa yang menghebohkan muncul dari Mesir. Dr. Ezzat Atiyyah, kepala Jurusan Hadis di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, berpendapat bahwa seorang karyawan yang bekerja di ruangan tertutup dan berduaan dengan seorang karyawati lain yang bukan “mahram”, boleh menetek dari perempuan itu untuk menghindari larangan khalwat. Dengan menetek dari perempuan itu, karyawan tersebut berubah status menjadi seorang anak dari perempuan tersebut, dan dengan demikian keduanya boleh ber-khalwat.

Fatwa ini didasarkan kepada sebuah Hadits yang sahih. Orang-orang terperangah mendengar fatwa itu. Akibat fatwa ini, Dr. Ezzat dipecat oleh pihak universitas Al-Azhar, karena dalam penilaian yang terakhir itu, fatwa tersebut menyebabkan kebingungan dalam masyarakat, dan menjadikan Islam sebagai bahan olok-olok di mata orang luar Islam.

Di Indonesia sendiri, sejumlah fatwa heboh juga kerapkali kita jumpai dari waktu ke waktu. Hingga sekarang, Majlis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, mengharamkan seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen.
Bagaimana kita, sebagai umat Islam, menghadapi fatwa-fatwa heboh seperti ini? Pertama-tama, yang harus dipahami oleh umat Islam, dan juga umat lain yang hendak memahami dinamika internal dalam umat Islam. Apa yang disebut sebagai fatwa bukanlah semacam surat ensiklik dari Vatikan yang harus ditaati oleh seluruh umat.

Berbeda dengan agama Katolik, Islam tidak mengenal lembaga klerikal yang terpusat yang menentukan kata putus dalam segala hal yang berurusan dengan soal agama. Islam lebih mirip dengan agama Protestan, meskipun tidak seluruhnya persis. Baik dalam Islam dan Protestan tak dikenal lembaga terpusat yang bisa menjadi otoritas terakhir yang memutus segala hal berkenaan dengan agama dan keputusan itu mengikat umat.

Meskipun para ulama fikih mengatakan bahwa ijithad dalam Islam diikat oleh metode dan prosedur tertentu yang kurang lebih baku, tetapi jelas hasil ijtihad seorang ulama sangat ditentukan oleh banyak faktor, termasuk faktor-faktor di luar pertimbangan agama. ”Mind-set”, paradigma berpikir dan kecenderungan intelektual ulama bersangkutan juga menentukan hasil akhir dari suatu ijtihad. Bahkan, latar belakang sosial-budaya dari ulama itu juga ikut mewarnai proses berijtihad yang ia lakukan.

Dengan melihat proses fatwa seperti itu, saya berharap kita bisa menempatkan fatwa secara proporsional. Apa yang disebut sebagai fatwa adalah tak lebih dari “legal opinion”, pendapat hukum. Fatwa mengenai kasus tertentu tidak berarti langsung menjadi kata pamungkas dalam kasus tersebut, sebab ulama atau sarjana lain bisa memiliki pendapat yang berbeda.

Tidak semua orang kompeten untuk mengeluarkan sebuah fatwa. Tetapi, setiap orang berhak menilai apakah sebuah fatwa masuk akal atau tidak, apalagi jika fatwa itu menyangkut kehidupan masyarakat banyak. Dengan kata lain, cara terbaik yang dapat membantu orang-orang awam di bidang hukum Islam untuk menilai sebuah fatwa adalah akal sehat. Itulah modal mental paling berharga yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Dengan akal sehat, orang bisa sampai pada pendapat yang berbeda-beda. Perbedaan adalah hal yang biasa dan tentu alamiah.

Tetapi, memberangus perbedaan dengan alasan bahwa pendapat tertentu bertentangan dengan “fatwa” dari seorang atau lembaga ulama dan karena itu sesat, jelas tak masuk akal dan kontradiktif dengan hukum masyarakat.

Tulisan ini pernah dimuat di salah satu media nasional.
Dikutip dari tulisan: Ulil Abshar-Abdalla


Read more...

SIKAP GURU TERHADAP PEMBELAJARAN DENGAN ICT


1. Apatis . Pada level ini guru sama sekali tidak tetarik dengan ICT, mungkin belum tahu manfaatnya atau tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk menguasai ICT. Maka, guru pada level ini sangat isolatif sehingga sulit untuk menerima hal-hal baru yang bersifat inovatif, akibatnya siswa harus menerima pembelajaran konvensional di kelas, mungkin untuk satu materi tertentu menguntungkan, tapi secara global akan sangat menjemukan.

2. Tertarik . Pada level ini guru baru sebatas mengetahui manfaat ICT, mungkin juga tahu bahayanya ICT, tetapi tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk menguasai ICT. Untuk itu, guru mungkin hanya sekedar mengijinkan dan menganjurkan kepada siswa untuk menggunakan ICT, tetapi tidak diterapkan di dalam kelas.

3. Mulai Adopsi. Pada level ini, guru sudah memiliki sedikit banyak bekal terkait dengan ICT, akan tetapi belum mampu berbuat banyak. Produk-produk ICT yang banyak di luar baru sebatas diketahui dan digunakan saja. Dia belum mampu menemukan kekuatan dan kekurangan dari ICT yang digunakannya.

4. Adaptasi. Pada level ini, guru sudah memiliki lumayan banyak bekal yang terkait dengan ICT. Bahkan, guru sudah mampu melihat plus minusnya suatu produk ICT. Karena itu, dia bisa memilah dan memilih, bahkan mengurang atau menambahkan sesuatu dalam penerapannya sehingga penggunaan ICTnya lebih sesuai dengan harapannya.

5. Level Innovasi. Pada level ini, guru sudah mahir tentang ICT tertentu atau beberapa ICT, dan mampu membuat sendiri ICT yang sama sekali baru dan cocok Cdengan kebutuhan pembelajarannya.

Kita berada di level yang mana sekarang ini? Rasa-rasanya kita lebih banyak berada pada level 1 , 2 dan 3. Kita, sebagai guru, masih harus belajar untuk bisa masuk ke level 4 dan 5. Bahkan, kita juga banyak yang belum tahu sama sekali tentang ICT terbaru. Karena itu, kita perlu lebih banyak membuka diri untuk mengetahui tentang perkembangan ICT. Guru yang profesional adalah guru yang menguasai materi yang diajarkannya, menguasai metode dan teknik pembelajaran yang diperlukan, dan mengikuti perkembangan jaman sehingga mampu melaksanakan pembelajaran yang baik sesuai dengan jamannya. Sudah bukan jamannya lagi mengajar dengan mengandaikan kejadian seperti kita dulu lahir. Anak dilahirkan pada dan untujk jamanya, maka gurulah yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.

Namun demikian, jangan lupa, sekolah juga berperan penting dalam memberikan dukungan agar pembelajaran matematika dengan ICT bisa berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan dengan efektif. Tanpa dukungan yang baik, pembelajaran matematika dengan ICT hanya akan menjadi mimpi belaka. Guru tidak akan mampu melakukkannnya secara kontinyu dan bertahan lama.
Dukungan itu antara lain:
1. Penyediaan Sarana Prasarana, agar pembelajaran matematika dengan ICT bisa berlangsung dengan optimal, diperlukan ketersediaan sarana prasarana yang harus setiap periode sekali di update. Ini memang akan memakan biaya mahal, tapi kalau dikaitkan dengan kebutuhan hidup di masa mendatang, tampaknya ini takkan terelakkan.
2. Pembinaan Human Resources/Sumber Daya Manusia Perkembangan ICT yang begitu pesat dari waktu ke waktu, menuntut setiap Corang untuk mengikuti perkembangan. Untuk itu, sumber daya manusia di sekolah, terutama para guru, perlu terus menerus mengikuti perkembangan itu secara mandiri atau mendapatkan pelatihan secara terorganisir oleh sekolah.
3. Pemantapan Iklim Pendidikan ICT merupakan sesuatu yang netral. dan semuanya (yang baik atau yang buruk) tersedia di dalamnya. Manusianyalah yang menentukan apakah ICT itu akan bermanfaat untuk kebaikan atau keburukan. Karena itu, diperlukan adanya suatu iklim pendidikan yang menjaga agar penggunaan ICT tidak menjurus ke hal-hal yang tidak baik.

Akhirnya, ICT sudah ada di depan mata kita setiap harinya, dan menanti kita untuk mengolah dan memanfaatkannya untuk kepentingan anak menghadapi masa depan. Sebagai guru yang profesional, tampaknya tidak bisa tidak kita harus belajar dan terus belajar. Kita tidak boleh berdiam diri dan melaksanakan pembelajaran matematika di sekolah tanpa mencoba dan melirik sedikit pun terhadap keberadaan ICT yang sangat potensial tersebut. Namun, kita juga harus pandai-pandai dalam memberikan penugasan agar ICT memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, bukan justru menghancurkan generasi muda. Kita harus bijak. Semoga bermanfaat. Mari kita belajar sama-sama, mulai sekarang juga....!


Read more...
"JIKA YANG LEBIH BAIK MEMUNGKINKAN, MAKA YANG BAIK SAJA TIDAKLAH CUKUP!"...!!!
My Family Slideshow: M.Tholib’s trip from Jombang (near Mojokerto, Java, Indonesia) to Surabaya was created by TripAdvisor. See another Surabaya slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.