KIAT CERDAS BELAJAR MATEMATIKA


Alangkah bahagianya, jika orang tua bisa melihat anaknya bisa menjadi ahli dalam setiap pelajaran. Yang menjadi masalah bagi anak-anak Indonesia, biasanya mereka tidak menyukai pelajaran-pelajaran yang dianggapnya sulit (momok), misalnya matematika.
Biasanya, orang tua akan mengkursuskan anaknya, untuk orang tua yang mampu. Tapi bagi mereka yang kurang mampu atau bagi santri yang jauh dari orang tua dan berada dilingkungan pondok, sehingga tidak ada waktu luang untuk mengikuti les diluar, tentu tak banyak usaha yang mampu dilakukan. Padahal sebenarnya Anda sendiri bisa memaksimalkan kemampuan matematika Anda secara mandiri. Bagaimana caranya?

Berikut ini ada beberapa kiat menarik, yang kami sajikan karena seringnya kami menerima pertanyaan tentang bagaimana kiat-kiat belajar Matematika yang enjoyable, sekaligus tips untuk menjadi jago dalam pelajaran Matematika.

1. Sediakan segala kebutuhan, yang Anda gunakan sebagai sarana belajar matematika!.
Matematika hampir mirip dengan pelajaran ketrampilan. Semakin sering anda berlatih menjawab soal, semakin terampil pula tangan anda merespon semua variasi soal Matematika yang ada. Artinya anda harus selalu menyediakan pensil/pulpen dan kertas buram disaat belajar Matematika. Manfaatkan kertas sisa fotocopian yang sudah tidak terpakai lagi, gunakan untuk corat-coret perhitungannya. Jangan lupa, awali belajar anda dengan berdo’a minta dibukakan hati dan pikiran, ikhlas mencari ilmu hanya karena Allah semata. Bagi yang kecanduan musik, bisa menambah rileksnya otak, dengan belajar sambil mendengarkan alunan musik yang merdu. Namun bagi susah berkonsentrasi dengan kebisingan, jangan sekali-kali mencobanya. Bila menemukan kebuntuan dalam menjawab soal, cobalah keluar ruangan untuk mencari hal-hal refresh diluar. Lalu coba kerjakan sekali lagi !

2. Pastikan anda mengetahui konsep matematika yang sedang anda pelajari !
Setiap materi pada pelajaran Matematika, pastilah mengandung satu konsep yang akan dipelajari, yang terkadang bertaut dengan materi sebelumnya. Jika Anda tidak menguasai konsep dasar dari matematika tersebut , maka Anda hanya akan mempelajari matematika dengan hafalan saja. Padahal, matematika yang di hafal itu tidaklah ada artinya, karena anda akan menemui banyak kesulitan jika menemukan model-model soal yang sudah bervariasi. Konsep adalah ide dasar/pengertian pokok tentang suatu materi. Anda dapat bertanya tentang konsep dasar matematika tersebut pada guru atau teman-teman anda yang lebih mahir, sehingga anda akan mudah memahami soal-soal yang rumit dengan modal mengetahui konsep dasarnya.

3. Belajarlah untuk menulis angka dan simbol dengan teliti !.
Obyek kajian Matematika adalah abstrak (angka, rumus dan simbol-simbol) yang mengandung makna khusus. Duapuluh lima persen kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal matematika ditemukan oleh guru Matematika adalah kesalahan yang dikarenakan ketidaktelitian sang anak dalam menulis angka, rumus dan simbol. Perbaikilah ketelitian anak Anda dalam menulis dan mengolah angka simbol dengan cara meneliti ulang buku catatan dan latihan soal yang telah anda kerjakan. Disitu akan anda temui letak kesalahan kita yang berasal dari ketidaktelitian dalam penulisan simbol-simbol Matematis, yang berakibat pada kesalahan fatal pada perolehan hasil akhirnya. Misal penulisan tanda negatif (-) yang sering lupa, hal ini kelihatannya sepele, tetapi akan berakibat fatal, karena bisa mendapatkan solusi jawaban yang jauh berbeda.

4. Berusahalah untuk selalu mengerjakan tugas rumah (PR) yang diberikan oleh guru anda!.
Matematika adalah sebuah obyek hierarki, yang semua materinya dibangun dari apa yang telah dipelajari sebelumnya. Sebagai contoh, kegagalan dalam mengetahui konsep perhitungan integral dikelas XII biasanya disebabkan karena sang anak tidak menguasai masalah differensial pada waktu masih kelas XI, dan bila dirunut terus, hal ini disebabkan karena lemahnya pemahaman konsep tentang definisi fungsi dikelas X, dan seterusnya. Maka biasakanlah anda untuk memulai belajar dengan mengerjakan tugas dari guru, dengan membuka buku atau mengulang pelajaran dan contoh-contoh yang telah diberikan pada materi sebelumnya. Jika kurang jelas, tanyakan pada teman yang lebih mahir sampai anda benar-benar bisa mengerti tugas tersebut. Lebih bagus lagi, anda mempunyai kelompok belajar sendiri dengan tutor sebaya, untuk berdiskusi/sharing tentang materi-materi yang diberikan guru. Dengan mengerjakan tugas-tugas matematika, anda akan mempertajam ilmu yang didapat dari sekolah untuk diasah lagi di rumah dan akan lebih siap plus PD (Percaya Diri) menyambut pelajaran esok hari. Dan bila terpaksa absen/tidak masuk kelas, segeralah untuk menambal materi yang tertinggal, agar mata rantai hierarki Matematika tidak sampai terputus.

5. Berusahalah untuk mengerjakan model-model soal yang bervariasi !.
Jika guru anda hanya memberikan soal model tertentu saja, maka Anda jangan terlalu cepat puas bisa mengerjakannya, anda harus mencari contoh soal variasi yang lain. Ingat, semakin Anda banyak berlatih maka semakin cepat anda membentuk kemampuan dan kepercayaan pada diri anda. Rumus praktis/trick dapat Anda tanyakan pada guru Anda, agar dapat melatih respon yang cepat terhadap berbagai jenis soal. Dan jangan lupa untuk berlatih menyelesaikan masalah soal cerita.
Berlatihlah membaca soal cerita berkali-kali. Juga, berusahalah untuk menggambarkannya dalam bentuk tabel atau diagram untuk lebih mudah mencerna kalimat soal cerita. Pelajaran Matematika membutuhkan ekspresi untuk memecahkan masalah. Maka solusinya adalah Anda harus berusaha memecahkan masalah tersebut, bukan malah menjauhinya. Anggap belajar Matematika seperti bermain game yang penuh tantangan dan misteri dalam menjawabnya. Ingat : Mathematic, We love this game !

6. Biasakanlah Anda mempelajari tata bahasa matematika !.
Tata bahasa Matematika mempunyai sifat yang unik/khas yang berbeda dengan pelajaran lain. Anda tidak akan dapat memahami matematika secara nyata, tidak pula mempelajari konsep yang lebih menantang tanpa mempelajari tata bahasanya. Tata bahasa Matematika dibahas khusus pada materi kelas X yaitu Bab Logika. Maka matangkanlah materi tersebut, karena dia akan mendasari pemahaman semua materi yang lain. Pastikanlah bahwa Anda dapat mengikuti masalah yang baru atau bab baru, dengan memahami alur logikanya dan berbagai istilah-istilah baru didalamnya. Jika tidak, belajar Matematika anda akan terasa tidak bermakna dan membosankan, karena sama sekali tidak memahami alur logika dan berbagai istilah didalamnya.

7. Belajarlah untuk mengerjakan soal latihan Matematika secara Close Book !.
Untuk tahap awal, memang perlu dilatih mengerjakan soal secara Open Book. Tapi jangan berhenti disitu, ulangilah kembali mengerjakan soal-soal yang sama dengan Close Book untuk melatih ketajaman logika anda. Terutama dengan soal multiple choice/pilihan ganda, yang sebenarnya banyak cara cepat/trick untuk menjawabnya, jikalau anda sudah memahami kemana alur soalnya.

8. Berusahalah untuk belajar Matematika dengan mencari fakta-faktanya di lingkungan sekitar !

Penguasaan fakta Matematika berarti bahwa anda berusaha mengaitkan segala hal yang dipelajari dalam Matematika dengan lingkungan sekitar. Apabila Anda belum juga bisa memahami materi tersebut, mintalah penjelasan dengan contoh yang nyata pada guru atau teman-teman anda yang lebih mahir. Misalnya, menghitung luas dan volume bangun ruang dengan mencari benda-benda nyata yang ada disekitar kita, agar lebih mudah untuk mengimajinasikan ilustrasi gambarnya. Dengan begitu anda akan bisa mengenal Matematika lebih dekat, karena dia tidak jauh dari kita, tapi berada disekeliling kita.

9. Jadikanlah matematika sebagai bagian dalam hidup Anda !.
Matematika akan lebih berarti dan menjadi bagian dalam hidup anda, ketika Anda dapat melihat bagaimana pentingnya matematika dalam kehidupan ini, dan dapat melihat kemanfaatannya disana-sini. Hal ini bisa diawali dengan melihat teman sejawat anda yang lebih smart dalam pelajaran Matematika, biasanya dia juga smart pada pelajaran yang lain, lebih dari itu biasanya dia juga mempunyai respon yang aktif, logis, dan sistematis terhadap berbagai masalah yang ada di sekitarnya. Buktikan, andapun bisa melakukannya !

Insya Alloh, bila 9 kiat diatas bisa dipraktekkan dengan konsisten dan kontinu, maka akan lahir juara-juara baru olimpiade Matematika dari MAN Tambakberas yang mampu bersaing baik ditingkat regional, nasional, maupun internasional. Amin !. Oh... ya, tips diatas, tidak hanya bisa diterapkan pada pelajaran Matematika saja lho, tapi bisa bisa juga dicoba untuk pelajaran yang lain. Akhirnya saya akhiri artikel ini dengan satuGolden Word : ”Tiada kata terlambat untuk belajar, dan mulailah dari sekarang....! ”.


Selamat mencoba !!!


Read more...

”MATEMATIKA = AYAT – AYAT ALLAH SWT”


Pernahkah kita berpikir tentang susunan bilangan – bilangan pada pelajaran Matematika ? Memang tidak terlalu penting sih…!. Tapi, tidak di sangka ternyata ajaib sekali. Dan bisa dijadikan sebagai bahan/obyek tafakkur untuk mengingat eksistensi kekuasaan Allah SWT di sekitar kita. Bukanlah suatu kebetulan belaka, tapi itulah hakikat matematika, sebagian kecil dari tetesan ilmu Allah yang berserakan di muka bumi, yang memancing otak manusia untuk banyak mengkajinya. Yang akan bermuara pada satu tujuan akhir, yaitu kesimpulan bahwa: ”Tiadalah sesuatu yang Engkau ciptakan di dunia ini akan sia-sia, namun hanya kamilah yang sering alpha melalaikan-Mu”. Dan sebuah pengakuan yang terukir indah pada Kitab Suci Al Qur’an, yaitu :
"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” ( Al Qur’an Surat Al Baqarah: 32 )
Beberapa dari sekian banyak ayat – ayat ( tanda - tanda kekuasaan ) Allah yang terungkap pada pelajaran Matematika, antara lain:

Ayat Pertama : Coba lihatlah susunan angka 1 bila di kuadratkan :

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321 ( Sungguh menakjubkan.... !, siapakah yang mampu menyusunnya ? )

• Ayat Kedua : Perhatikan kombinasi kali dan tambah pada anga-angka berikut dan lihatlah hasilnya !

0 x 9 + 0 = 0
1 x 9 + 1 = 10
12 x 9 + 2 = 110
123 x 9 + 3 = 1110
1234 x 9 + 4 = 11110
12345 x 9 + 5 = 111110
123456 x 9 + 6 = 1111110
1234567 x 9 + 7 = 11111110
12345678 x 9 + 8 = 111111110
123456789 x 9 + 9 = 1111111110 ( benar-benar ajaib bukan?)
Ini belum seberapa…! Perhatikan juga ayat berikut...!

• Ayat Ketiga : Untuk lebih meyakinkan, telitilah hasil operasinya dengan kalkulator !

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321 ( Wow.......... keren ! )


• Ayat Keempat : Bayangkan kecerdasan Sang Penciptanya !

1 x 18 + 1 = 19
12 x 18 + 2 = 218
123 x 18 + 3 = 2217
1234 x 18 + 4 = 22216
12345 x 18 + 5 = 222215
123456 x 18 + 6 = 2222214
1234567 x 18 + 7 = 22222213
12345678 x 18 + 8 = 222222212
123456789 x 18 + 9 = 2222222211
Siapakah lagi yang mampu menciptakan aturan seperti ini ???

• Ayat Kelima :

123456789 + 987654321 = 1111111110
1 x 142857 = 142857 (angka sama)
2 x 142857 = 285714 (angka sama beda urutan )
3 x 142857 = 428571 (angka sama beda urutan)
4 x 142857 = 571428 (angka sama beda urutan )
5 x 142857 = 714285 (angka sama beda urutan)
6 x 142857 = 857142 (angka sama beda urutan)
7 x 142857 = 999999 ( wow…… hasil yang Fantastis ! )


• Ayat Keenam :

22 x 9 = 198,
”Cara cepatnya” 2 x 9 = 18, lalu selipkan angka 9 ditengah, jadi 198….! Kita buktikan cara cepatnya berikut ini…!
33 x 9 = 297, cara cepat 3 x 9 = 27, selipkan 9 ditengah
44 x 9 = 396
55 x 9 = 495
66 x 9 = 594
77 x 9 = 693
88 x 9 = 792
99 x 9 = 891
Lalu bagaimana dengan 3 angka kembar yach ….???
Ternyata sama saja, tinggal menyelipkan 99 ditengahnya….!
Tidak percaya ….kita buktikan yach…?
222 x 9 = 1998, cara cepat 2 x 9= 18, selipkan 99 ditengah
333 x 9 = 2997
444 x 9 = 3996
555 x 9 = 4995 ( Subhanalloh, hebat kan ? )

• Ayat Ketujuh :


Bilangan sembarang jika dikalikan 9 maka jumlah angka hasilnya = 9, kita buktikan…..!
1 x 9 = 9
2 x 9 = 18, jumlah 1 + 8 = 9
3 x 9 = 27, jumlah 2 + 7 = 9
4 x 9 = 36, jumlah 3 + 6 = 9 dan seterusnya, sampai tak terhingga …..!

Beberapa ayat tersebut diatas jelas-jelas menunjukkan adanya ”Sang Pengatur Angka Yang Maha Cerdas” , yang sangat jeli dalam pengoperasian bilangan dan angka tingkat tinggi. Dan masih banyak hal – hal fenomenal lain, yang akan kita dapatkan, jikalau kita mau mempelajari lebih dalam, fenomena angka-angka pada pelajaran matematika.
Akhirnya saya akhiri tulisan ini dengan satu kutipan firman dari ”Yang Maha Cerdas”, yaitu :
”Dan di bumi itu terdapat ayat-ayat ( tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
( Al Qur’an Surat Adz - Dzaariyat :20-21 )

Ada yang menemukan ayat Allah SWT yang lain lagi…..??? Anda tertarik dengan fenomena angka-angka.... ??? Anda penasaran dengan keajaiban Matematika ??? Dan anda ingin menyelami Samudera Matematika nan dalam dan luas ???? Silahkan bergabung dengan teman-teman di Team Olympiade Matematika OSIS MAN Tambakberas, Insya Allah akan terjawab rasa ingin tahumu...!

Selamat bergabung !!!


Read more...

SANTRI DITENGAH GLOBALISASI


Satu sisi pesantren (terutama pesantren salaf) adalah lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas dengan yang lain. Sebagai lembaga pendidikan tertua sejak sekitar abad 19 (masa pemerintahan kolonial Belanda) yang mengkhususkan dalam hal agama dan masih tetap melestarikan tradisi lokal sampai sekarang. Di sisi yang lain, globalisasi menawarkan sejuta kemudahan, seakan akan (mohon maaf!) untuk nyantri tidak harus diidentikkan dengan sarung dan mengaji di langgar saja, atau dengan duduk dan mengaji kitab kuning sambil mendengarkan Kyai bertutur, tapi bisa juga dengan cukup mendownload di Internet (atau sudah dalam bentuk program CD yang bisa diakses lewat komputer) maka Kitab yang kita inginkan akan segera muncul beserta terjemahanya dengan lengkap. apalagi kalau yang kita akses adalah kitab Tafsir maka cukup dengan menuliskan ayat apa yang kita maksud maka munculah ayat itu lengkap dengan terjemahan dan tafsir dari para Ulama' dahulu sampai Ulama' kontemporer.

1. Problematika Santri.
Kalau kita mengulas potret kehidupan santri, seakan tiada pernah ada habisnya. Diawali dari pengertian kata "santri". Dilihat dari asal usulnya, secara terminologis atau definisi kata “santri”, sekurang-kurangnya ada 2 pendapat (menurut Nur Cholis Madjid) yang dapat digunakan sebagai bahan acuhan. Pertama. Pendapat yang mengatakan bahwa santri berasal dari perkataan sastri, sebuah kata dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf (tahu huruf), lebih-lebih pada permulaan kebangkitan kekuasaan politik Islam di Demak. Kaum santri adalah kelas intelek bagi orang Jawa, di sebabkan pengetahuan mereka tentang agama melalui kitab-kitab yang bertuliskan bahasa Arab. Kedua, dari bahasa Jawa dari kata cantrik yang artinya seseorang yang mengikuti seorang kiai di manapun ia pergi menetap untuk menguasahi suatu bidang keahlian sesuai bidangnya. Santri yang di kenal sebagai penghuni pesantren setiap harinya, membentuk suatu karakter khas, yang tentunya di pengaruhi oleh sosok pengasuh atau kiai dan lingkungan yang di tempatinya. Sosok santri yang biasanya tubuhnya di bungkus sarung, baju panjang, peci serta lengkap dengan alas kaki seadanya, serta makan seadanya dengan bersama-sama. Menjadi ciri tersendiri dan dengan mudahnya dapat membedakan namanya santri dan bukan.
Kalau mau disadari, terdapat berbagai macam problematika internal yang signifikan yang kaitannya dengan perkembangan kualitas kaum santri di pesantren di tengah era globalisasi. Seorang santri selalu identik dengan pelajar yang menekuni ilmu agama dan bermoral baik yang dipersiapkan sebagai kholifah dalam masyarakat untuk mengembangkan Islam. Akan tetapi keadaan tersebut mengalami degradasi dalam berbagai hal. Diantaranya bidang pendidikan, moral, intelektual dan sebagainya. Faktor penyebabnya diantaranya adalah :
1. Motivasi santri untuk menuntut ilmu liwajhillah cenderung melemah. Pendidikan pesantren cenderung bersifat formalitas yang ujung-ujungnya hanya berorientasi pencarian ijasah formal yang bernilai ekonomis atau untuk peningkatan stasus sosial di masyarakat. Perilaku etis santri sudah susah di bedakan dengan non santri.
2. Pengaruh arus globalisasi yang demikian pesatnya sehingga meruntuhkan nilai-nilai moralnya, terutama bagi santri yang tidak siap dengan filter budaya dalam menghadapinya.
3. Lemahnya kontrol dan pengawasan, sehingga tidak ada budaya belajar yang kontinu di lingkungan pesantren, dan hanya terjebak pada rutinitas kegiatan yang miskin makna.
4. Kurangnya variasi metodologi pengajaran, karena dalam pesantren hal-hal yang bersifat penalaran atau analisa cenderung tersingkirkan sedangkan yang bersifat dogmatik lebih dominan. Hal ini disebabkan karena metode pendidikan terhadap santri bersifat pasif sehingga mengakibatkan santri tidak dapat aktif serta tidak dinamis, tidak dapat mengembangkan intelektualitasnya.
5. Kurangnya sinkronisasi kurikulum pondok dan sekolah sehingga sering terjadi tumpang tindih materi pelajaran, yang menyebabkan kejumudan belajar pada diri santri.
Padahal santri adalah tumpuan harapan keluarga dan masyarakat. Agar disaat pulang nanti santri mampu mengentaskan mereka sendiri dari sifat kekanak-kanakan yang menggerogoti jiwanya. Dan mampu membimbing dan mengarahkan keluarga dan masyarakat menuju hidup dalam kemapanan. Melihat tugas dan tantangan yang begitu besar, maka tak ada lagi solusi, selain menjadikan santri sebagai figur manusia yang kuat jiwanya, tidak mudah terguncang oleh gelombang arus global, dan juga cerdas, luas wawasannya agar bisa memecahkan segala masalah yang menimpa dirinya dan masyarakat sekitarnya. Setidaknya mereka mempunyai basic yang kuat sebagai modal menghadapi masyarakat yang semakin lama semakin berkembang pesat akibat arus modernisasi dan globalisasi sekarang ini. Bagaimana harusnya sikap pesantren dalam hal ini santri di era globalisasi ini ?
2. Tantangan Santri di Era Globalisasi.
Globalisasi dan Modernisasi adalah dua sisi dari satu mata uang, Ia juga menawarkan sebuah pilihan yang ambivalen, satu sisi manfaat kalau memang kita sudah siap dan mampu mengaksesnya, dan mungkin juga membawa petaka kalau kita gagap (GAPTEK=gagap teknologi) dan tidak siap menghadapinya. Globalisasi juga menawarkan berbagai macam pilihan, bisa menguntungkan juga membahayakan. Sebab didalam globalisasi terjadi kompetisi, bukan hanya yang kuat dengan yang kuat saja yang berkompetisi tetapi juga yang kuat dan yang lemah dituntut pula berkompetisi. Globalisasi adalah sebuah keniscayaan yang nyata yang mau tak mau akan kita hadapi bersama dan tak terelakkan (inevitable), karena ia sudah menembus intitusi kenegaraan sampai institusi keluarga, bahkan sudah masuk ke dalam rumah kita dan meyelinap ke kamar-kamar kita. Globalisasi pun menawarkan sejuta mimpi, harapan, serta kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan, dimana akses informasi yang begitu cepat akan sedikit demi sedikit bisa merubah konstruksi paradigma pemikiran kita dan lambat laun akan digantikan oleh paradigma baru. Pesantren yang ghalibnya merupakan palang pintu pelestarian tradisi Islam dan ulama' akan segera diuji kekokohanya oleh yang namanya globalisasi.
Globalisasi lebih dari sekadar lonjakan volume lalu lintas ekspor dan impor. Ia menyangkut perubahan mendalam pada semua aspek kehidupan. Sebagaimana komunikasi Jakarta-Jombang kini bisa dilakukan dalam sekejap, begitu pula komunikasi antara Makkah-Tambakberas tidak lagi membutuhkan waktu berbulan. Dan itu terjadi pada migrasi, transportasi, media, perdagangan, dan sebagainya. Dan dunia tidak lagi sunyi karena jarak waktu ruang, tetapi riuh rendah dengan lalu lintas pertukaran barang, gagasan, perasaan, sampai perkara-perkara maya (virtual). Sebagai arena tukar wawasan, pikiran, perdagangan, budaya, ilmu pengetahuan dan lain-lain dunia kita ini kian menjadi satu unit/globe.
Satu sisi pesantren (terutama pesantren salaf) adalah lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas dengan yang lain. Sebagai lembaga pendidikan tertua sejak sekitar abad 19 (masa pemerintahan kolonial Belanda) yang mengkhususkan dalam hal agama dan masih tetap melestarikan tradisi lokal sampai sekarang. Di sisi yang lain, globalisasi menawarkan sejuta kemudahan, seakan akan (mohon maaf!) untuk nyantri tidak harus diidentikkan dengan sarung dan mengaji di langgar saja, atau dengan duduk dan mengaji kitab kuning sambil mendengarkan Kyai bertutur, tapi bisa juga dengan cukup mendownload di Internet (atau sudah dalam bentuk program CD yang bisa diakses lewat komputer) maka Kitab yang kita inginkan akan segera muncul beserta terjemahanya dengan lengkap. apalagi kalau yang kita akses adalah kitab Tafsir maka cukup dengan menuliskan ayat apa yang kita maksud maka munculah ayat itu lengkap dengan terjemahan dan tafsir dari para Ulama' dahulu sampai Ulama' kontemporer.
Memang hal ini akan sedikit kontraproduktif, karena dalam tradisi salaf ada istilah "ngalap barokah" atau "mencari sanad". Dan kami tak bermaksud mendikotomikan kedua hal tersebut. Yang perlu kita renungkan adalah pertimbangan diversifikasi metode dalam mencapai suatu tujuan agar kita mampu untuk meraih kedua-duanya, dan tidak terpaku pada satu kurikulum saja. Sehingga dengan semakin kompleksnya problematika umat, seorang santri dan pesantrennya akan tetap eksis diantara himpitan modernitas dan globalisasi.
3. Jalan Tengah (Tawasuth)
Ada baiknya kalau santri bijak menghadapi derasnya arus global ini. Kalau serta merta menolak globalisasi dengan melestarikan konstruksi lama dan tidak mau melihat sesuatu yang baru didepan mata, sangat jelas ini akan merugikan diri sendiri di kemudian hari. Meninggalkan tradisi lama bagi pesantren juga merupakan hal yang keliru, seolah-olah kita melupakan identitas dan sejarah kita yang tentu juga kaya akan makna dan simbol luhur (kesederhanaan, keikhlasan, keseteraan dll) dan sangat tidak bijak juga kalau mengatakan sesuatu yang lama itu buruk, kolot, ketinggalan zaman dan sebagainya. Akan lebih bijak kalau pesantren dan santri memaknai kembali aplikasi kaidah Ushul Fiqih ajaran para ulama' : "Al muhafadhotu alaa qodimi shalih wal akhdu bi jadidil ashlah"(melestarikan nilai nilai lama yang baik dan menggali nilai nilai baru yang lebih baik).
Dan Alhamdulillah, para kyai tidak henti-hentinya berikhtiar mengupayakan dipertahankannya tradisi keislaman yang selama berabad-abad masih tetap dianggap baik dan mengupayakannya untuk dipadu dengan tradisi baru yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kehidupan moderen. Beliau terus berupaya memadu tradisi dengan modernitas, meskipun mencapai hasilnya belum maksimal. Tinggal kita kaum santri yang harus cerdas dalam mencerna. Padahal dalam sejarah kebudayaan Islam, tercatat bahwa tradisi Islam yang lamapun adalah bagian dari kehidupan global. Sebagai contoh, kemajuan umat Islam pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah adalah buah dari kemampuan umat Islam saat itu sebagai pelaku kehidupan dan pembangun peradaban global/modern pada jamannya. Pada periode itu Islam benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin secara maksimal. Beda dengan saat ini, Islam menjadi “tertuduh teroris” dalam pentas percaturan dunia. Dimana kaum santri ?. Akankah santri hanya menjadi penonton, obyek dan atau jadi korban arus globalisasi ? atau lebih memilih menjadi sastri (asal kata santri=melek teknologi) sehingga dia bisa menjadi bagian bahkan menjadi aktor dan pelaku globalisasi, tentunya untuk amar maruf nahi munkar !!! Amiin !!!. Silahkan pilih !

M.THOLIB,S.Pd.
(Alumni Pon.Pes. "Al-Idris"Karangrejo, Surabaya)


Read more...
"JIKA YANG LEBIH BAIK MEMUNGKINKAN, MAKA YANG BAIK SAJA TIDAKLAH CUKUP!"...!!!
My Family Slideshow: M.Tholib’s trip from Jombang (near Mojokerto, Java, Indonesia) to Surabaya was created by TripAdvisor. See another Surabaya slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.